3 NOV 2026
← Kembali
Beranda / Korporasi / 263 Ribu Ha Gambut Terbakar — Jejak Korporasi di Konsesi
Korporasi

263 Ribu Ha Gambut Terbakar — Jejak Korporasi di Konsesi

Tim Redaksi Feedberry ·2 November 2026 pukul 21.06 WIB · Sinyal menengah · Sumber: Katadata ↗
7.7 Skor

Temuan 263.558 hektare FLEG terbakar menyentuh konsesi perusahaan terafiliasi grup Singapura dan emiten perkebunan, sementara penegakan hukum lintas yurisdiksi dapat menaikkan biaya kepatuhan dan modal sektor sawit-pulp.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Pantau Gambut mencatat 263.558 hektare area indikatif fungsi lindung ekosistem gambut (FLEG) terbakar sepanjang Januari–September 2026. Dari luas itu, 39.055 hektare berada di area hak guna usaha (HGU) dan 20.248 hektare di konsesi perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH). Temuan ini penting karena PP Nomor 71 Tahun 2014 jo. PP Nomor 57 Tahun 2016 mewajibkan pemegang izin menjaga fungsi hidrologis gambut—menjaga lahan tetap basah dan berperan sebagai spons alami—termasuk pada area yang belum digarap. Artinya, status 'belum ada kegiatan' tidak menghapus kewajiban menjaga lahan tetap basah dan mencegah kebakaran. Beberapa konsesi yang terdeteksi berada di area FLEG terbakar memperlihatkan pola kepemilikan yang melampaui batas konsesi.

PT Kayung Agro Lestari (KALE), bagian Austindo Nusantara Jaya Group yang terafiliasi First Resources Ltd, memiliki 2,75 ribu hektare FLEG terbakar dari 5,89 ribu hektare konsesi di FLEG. First Resources yang terdaftar di Singapura telah diminta keterangan oleh Bursa Efek Singapura dan pimpinannya dipanggil pemerintah Singapura. PT Sinar Karya Mandiri—sebelumnya disegel Kementerian Lingkungan Hidup dan merupakan cucu usaha PT Gozco Plantation Tbk—mencatat 1,28 ribu hektare dari 3,1 ribu hektare konsesi di FLEG. PT Mayawana Persada, bagian Royal Golden Eagle Group (RGE) yang telah dikenai sanksi administratif Kementerian Kehutanan, memiliki 4,78 ribu hektare dari 39,9 ribu hektare. PT Bumi Mekar Hijau, mitra SinarMas APP Group, mendapat pemberitahuan tindakan pencegahan dari NEA Singapura.

Pola ini menunjukkan risiko tidak berhenti di pemegang konsesi, tetapi merambat ke holding dan grup terafiliasi—beberapa di antaranya memiliki entitas tercatat dan hubungan pembiayaan bank. Efeknya bukan hanya lingkungan. Pembeli global yang menuntut ketertelusuran rantai pasok dapat memperketat audit, sertifikasi, dan uji tuntas. Bank dan perusahaan asuransi dapat menaikkan premi atau memperketat pembiayaan. Beban kepatuhan lalu turun ke lapisan bawah: pemasok tandan buah segar, petani plasma, dan operator logistik yang tidak disebut dalam temuan. Di pasar, risiko ini belum sepenuhnya tercermin. IHSG berada di 5.097 (naik 0,79%), USD/IDR 18.161, Brent US$106,09 (turun 6,47%), dan AALI sebagai proksi CPO di 9.600 (turun 0,26%).

Pergerakan AALI yang tipis menunjukkan kompleks minyak nabati lebih dipengaruhi harga energi global ketimbang isu kepatuhan lingkungan—setidaknya untuk saat ini.

Mengapa Ini Penting

Ini bukan sekadar catatan kebakaran; ini ujian apakah kewajiban hidrologis dalam PP 71/2014 jo. PP 57/2016 bisa ditegakkan sampai ke holding yang terdaftar di bursa luar negeri. Jika penegakan berhenti di anak usaha, beban kepatuhan tetap di lapangan; jika naik ke induk, biaya modal, premi asuransi, dan akses pembiayaan seluruh rantai sawit-pulp berubah. Pihak yang paling terpapar justru emiten dan grup yang namanya tidak selalu muncul di headline, tetapi terhubung melalui kepemilikan dan pasokan.

Dampak ke Bisnis

  • Emiten dan grup perkebunan yang terafiliasi dengan konsesi terbakar menghadapi kenaikan biaya kepatuhan: audit pihak ketiga, sertifikasi keberlanjutan, dan uji tuntas pembeli. Bagi PT Gozco Plantation Tbk dan grup First Resources, tekanan tidak hanya administratif tetapi juga komersial karena pembeli global dapat menuntut ketertelusuran.
  • Bank dan perusahaan asuransi berpotensi memperketat pembiayaan atau menaikkan premi bagi konsesi di area gambut. Efek berantainya turun ke pemasok TBS, petani plasma, dan operator logistik yang harus menanggung verifikasi di lapisan bawah.
  • Sektor pulp dan kertas serta sawit—yang memasok pembeli global dengan tuntutan keberlanjutan—paling terpapar. Dalam 3–6 bulan ke depan, biaya modal dan akses pasar dapat berubah jika sanksi naik ke holding, meski harga CPO saat ini lebih dipengaruhi energi global.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau dalam 1–4 minggu: hasil audit kepatuhan pemegang konsesi oleh pemerintah—bila berujung pada pencabutan konsesi yang terbakar berulang, premi risiko ESG sektor sawit dan pulp meningkat.
  • Risiko yang perlu dicermati: perluasan pemanggilan Singapura dari 10 perusahaan menjadi cakupan yang lebih luas—bila berkembang menjadi permintaan rencana perbaikan atau sanksi formal, biaya kepatuhan naik ke holding dan pembiayaan bank.
  • Sinyal penting: publikasi daftar 66 perusahaan terafiliasi Singapura oleh Walhi dan respons emiten seperti Gozco Plantation Tbk serta First Resources—transparansi daftar dan respons korporasi akan menentukan apakah risiko masuk ke harga aset.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.