Studi global ini tidak langsung menggerakkan pasar, tetapi menyentuh fondasi ekspansi data center dan AI yang sedang dikejar Indonesia, dengan risiko perizinan air dan biaya tambahan.
Ringkasan Eksekutif
Studi di jurnal Environmental Science & Technology yang dipimpin Carnegie Institution for Science memetakan 9.347 data center global dan menemukan sekitar 25% berada di wilayah yang mengalami kesenjangan pasokan air setidaknya satu bulan dalam setahun. Artinya, seperempat infrastruktur komputasi dunia beroperasi di tempat yang pada periode tertentu permintaan airnya melampaui ketersediaan lokal. Dengan asumsi suhu global naik 3 derajat Celsius dibandingkan level 1900, proporsi itu diperkirakan meningkat menjadi 33% dalam sepuluh tahun. Temuan ini penting karena data center bukan fasilitas ringan air: unit berukuran besar dapat mengonsumsi air per hari setara kebutuhan kota berpenduduk 50.000 orang, terutama untuk pendinginan yang mengandalkan penguapan air tawar. Persoalannya bukan sekadar volume air, melainkan lokasi.
Listrik bisa dialirkan lewat jaringan transmisi, tetapi air harus diambil dari sumber setempat seperti danau, sungai, dan akuifer yang ketersediaannya berubah menurut musim. Itu sebabnya studi ini menemukan 41% data center bersaing langsung dengan kota dan pemerintah daerah untuk pasokan air, sementara di 28% lokasi lain pertanian menjadi pengguna air utama. Lorenzo Rosa dari Carnegie Institution menyatakan fasilitas-fasilitas itu tidak dibangun di ruang kosong, melainkan berdiri di atas sumber air yang juga menopang kota dan lahan pertanian. Dimensi yang luput dari headline: jejak energi data center relatif terukur karena listrik dicatat dan dilaporkan, tetapi kelangkaan air diukur secara lokal dengan metode tidak konsisten dan sering tidak diukur sama sekali. Bagi Indonesia, jalur dampaknya melalui ekspansi pusat data domestik.
Kapasitas nasional saat ini sekitar 580 megawatt dengan target 1,3 gigawatt pada 2027–2028, sementara Malaysia telah berada di kisaran 3 gigawatt. Pemerintah dan Danantara sudah mengarah ke syarat yang lebih ketat: proyek di atas 500 megawatt didorong membangun energi sendiri, dan pengelola diminta menerapkan sirkulasi tertutup, pengolahan air, serta desalinasi. Kebijakan itu masuk akal dari sisi beban PLN dan air, tetapi memindahkan biaya ke pengembang. Data center menengah yang mengandalkan jaringan PLN akan tersaring, sementara pemain besar dengan modal dan akses teknologi pendinginan lebih baik mampu bertahan. Efek lanjutannya mengalir ke kontraktor EPC pembangkit, penyedia turbin gas, perusahaan desalinasi, serta penyedia kabel dan gardu.
Geografi proyek juga bisa bergeser: desalinasi lebih ekonomis di pesisir, sehingga pilihan lahan di pedalaman Jawa menjadi kurang menarik.
Mengapa Ini Penting
Air mengubah peta kelayakan data center: bukan lagi hanya soal listrik murah, tetapi siapa yang mendapat akses air lokal dan izin sosial. Operator yang tidak menyiapkan sirkulasi tertutup atau desalinasi akan menghadapi penundaan dan biaya kepatuhan, sementara pemain besar serta kontraktor infrastruktur air justru mendapat ruang. Ini juga menciptakan benturan baru dengan petani dan kota yang selama ini menjadi pengguna utama air.
Dampak ke Bisnis
- Operator data center dan penyedia cloud akan menanggung kenaikan belanja modal karena pendinginan air makin sulit: sirkulasi tertutup, pengolahan air, atau desalinasi menambah komponen biaya yang tidak selalu masuk proposal investasi digital. Pemain menengah yang bergantung pada jaringan PLN dan sumber air lokal paling rentan tersaring.
- Sektor konstruksi, EPC pembangkit, penyedia turbin gas, perusahaan desalinasi, serta pemasok kabel dan gardu berpotensi mendapat permintaan baru dari syarat air dan energi untuk pusat data di atas 500 megawatt. Namun proyek akan lebih terkonsentrasi pada pengembang besar dan lokasi pesisir yang memungkinkan desalinasi.
- Petani dan pemerintah daerah di sekitar lokasi proyek menghadapi persaingan air yang lebih langsung. Studi menemukan 28% data center berada di wilayah dengan pertanian sebagai pengguna air utama, sehingga konflik lokal dapat menunda perizinan dan menaikkan biaya akuisisi lahan. Dampak yang sering terlewat adalah premi asuransi dan pembiayaan: dengan imbal hasil US Treasury 10 tahun di 5,13%, proyek yang harus membangun infrastruktur air sendiri menghadapi biaya modal lebih tinggi.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: detail aturan air untuk pusat data di atas 500 megawatt — jika kewajiban sirkulasi tertutup dan desalinasi ditegakkan, biaya capex naik dan studi kelayakan proyek perlu dihitung ulang.
- Risiko yang perlu dicermati: protes warga dan petani atas penggunaan air lokal — mekanismenya adalah penundaan izin lingkungan dan sosial, yang bisa memperlambat target kapasitas nasional.
- Sinyal penting: pengumuman proyek pada forum investasi Danantara 26–28 Oktober 2026 — dokumen itu akan menunjukkan apakah rencana pasokan air dan energi masuk sejak awal atau hanya menjadi nota kesepahaman.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.