18 JUN 2026
100x100 Luncurkan US$100 Juta untuk 50 Startup Hijau – Peluang Baru, Tantangan Distribusi ke RI

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / 100x100 Luncurkan US$100 Juta untuk 50 Startup Hijau – Peluang Baru, Tantangan Distribusi ke RI
Teknologi

100x100 Luncurkan US$100 Juta untuk 50 Startup Hijau – Peluang Baru, Tantangan Distribusi ke RI

Tim Redaksi Feedberry ·18 Juni 2026 pukul 11.49 · Sinyal menengah · Sumber: Katadata ↗
6 Skor

Dana ventura hijau regional ini membuka peluang bagi startup Indonesia, tetapi konsentrasi modal di Singapura (92% pendanaan regional) membuat dampak langsung ke RI bergantung pada distribusi aktual dana.

Urgensi
5
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
6
Analisis Startup & Pendanaan
Seri Pendanaan
Fund II
Jumlah
US$100 juta
Sektor
Energi, Pangan, Material, Rantai Pasok
Penggunaan Dana
Membangun dan mengembangkan 50 perusahaan berbasis teknologi rendah emisi di Asia Tenggara dan India, fokus pada energi, pangan, material, dan rantai pasok.
Investor
U.S. International Development Finance CorporationSingapore Economic Development BoardBritish International InvestmentTriple JumpQarlbo EnergyJG Digital Equity VenturesKajima CorporationBeacon Ventures

Ringkasan Eksekutif

Perusahaan venture builder dan investasi iklim asal Singapura, 100×100, meluncurkan dana investasi kedua (Fund II) dengan target penggalangan US$100 juta atau sekitar Rp1,7 triliun. Dana tersebut akan digunakan untuk membangun dan mengembangkan 50 perusahaan berbasis teknologi rendah emisi di Asia Tenggara dan India, dengan fokus pada sektor energi, pangan, material, dan rantai pasok.

Langkah ini diambil setelah dana pertama (Fund I) berhasil mencapai batas maksimal US$60 juta pada 2023 dan telah mendirikan 27 perusahaan di delapan negara. Pendiri 100×100, Marie Cheong, menekankan bahwa menekan emisi karbon tidak hanya penting bagi lingkungan, tetapi juga membuka peluang bisnis besar, dan nama 100×100 mencerminkan keyakinan bahwa keuntungan dan pengurangan emisi dapat berjalan beriringan. Model bisnis 100×100 berbeda dengan modal ventura konvensional: mereka membangun perusahaan sejak tahap awal bersama para pendiri, bukan sekadar berinvestasi pada startup yang sudah berdiri. Setiap perusahaan portofolio ditargetkan mampu mengurangi emisi hingga 100 juta ton setara karbon dioksida dan menghasilkan pendapatan tahunan minimal US$100 juta. Dukungan investor Fund II meliputi institusi terkemuka seperti U.S.

International Development Finance Corporation (DFC), Singapore Economic Development Board (EDB), British International Investment (BII), Triple Jump, Qarlbo Energy, JG Digital Equity Ventures, Kajima Corporation, dan Beacon Ventures. Keberadaan model venture building ini menarik di tengah konsentrasi ekstrem pendanaan startup di Asia Tenggara. Berdasarkan data terkini, Singapura menyerap lebih dari 92% pendanaan startup regional, sementara Indonesia hanya mendapat 8% — anjlok dari 42% pada 2021. Artinya, meskipun dana baru ini terbuka untuk seluruh kawasan, distribusi aktual ke Indonesia sangat bergantung pada kemampuan ekosistem lokal menarik perhatian 100×100. Jika Fund II memilih membangun perusahaan di Indonesia, ini bisa menjadi katalis positif bagi ekosistem green tech lokal, terutama di bidang energi terbarukan, pertanian berkelanjutan, dan rantai pasok rendah karbon.

Namun, bila dana kembali terpusat di Singapura dan Vietnam, Indonesia berisiko kehilangan momentum akselerasi inovasi iklim yang sangat dibutuhkan. Dari sisi makro, kawasan Asia Tenggara dan India dinilai akan menjadi pusat pertumbuhan permintaan energi dan ekspansi industri, sekaligus menghadapi tekanan besar untuk menurunkan emisi. 100×100 melihat kawasan ini sebagai pasar strategis bagi inovasi iklim. Bagi Indonesia, tekanan geopolitik dan krisis energi seperti yang dialami Filipina (deklarasi darurat energi nasional akibat gangguan Selat Hormuz) menambah urgensi transisi energi. Namun, tanpa regulasi yang mendorong investasi hijau dan kemudahan berusaha, Indonesia bisa tetap menjadi pasar konsumen, bukan tempat lahirnya inovasi. Dalam 1–4 minggu ke depan,

Mengapa Ini Penting

Peluncuran Fund II 100×100 menambah pasokan modal ventura untuk startup iklim di Asia Tenggara, yang selama ini didominasi oleh investasi di Singapura. Bagi Indonesia, dana ini bisa menjadi jembatan untuk menghidupkan ekosistem green tech yang masih belum matang, sekaligus menguji apakah pemerintah mampu memperbaiki iklim investasi agar modal tidak hanya berhenti di Singapura. Jika Indonesia gagal menarik bagian dari dana ini, risiko ketertinggalan dalam inovasi energi bersih dan rantai pasok rendah emisi semakin nyata — apalagi setelah negara tetangga seperti Filipina sudah mendeklarasikan darurat energi nasional.

Dampak ke Bisnis

  • Bagi startup green tech Indonesia, keberadaan dana ini membuka peluang pendanaan tahap awal yang sangat dibutuhkan, tetapi tantangan utamanya adalah daya tarik ekosistem lokal: regulasi, infrastruktur, dan kepastian hukum masih menjadi penghalang utama bagi venture builder untuk 'bertani' di Indonesia.
  • Korporasi di sektor energi, agribisnis, dan material berpotensi menjadi mitra atau even co-investor dengan 100×100 jika startup yang dibangun membutuhkan akses pasar atau rantai pasok lokal. Ini bisa menjadi katalis inovasi di sektor-sektor tersebut, namun juga bisa memicu kompetisi jika startup langsung mengincar segmen yang sama.
  • Dalam jangka 3-6 bulan, jika Fund II tidak menyalurkan dana signifikan ke Indonesia, hal ini akan memperkuat persepsi investor global bahwa Indonesia belum siap untuk investasi hijau berbasis teknologi, sehingga aliran modal ventura iklim akan terus terkonsentrasi di Singapura dan Vietnam.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pengumuman portofolio pertama dari Fund II — apakah ada startup berbasis di Indonesia yang menjadi bagian dari 50 perusahaan yang akan dibangun? Ini menjadi indikator awal sejauh mana fund ini merata atau kembali terpusat di Singapura.
  • Risiko yang perlu dicermati: jika ekosistem startup Indonesia kembali luput dari radar dana ini, maka kesenjangan modal ventura hijau antara Indonesia dan Singapura semakin melebar, memperlambat transisi energi dan inovasi rendah karbon di dalam negeri.
  • Sinyal penting: respons pemerintah Indonesia — misalnya melalui peluncuran insentif fiskal khusus untuk venture builder hijau atau penyederhanaan perizinan — akan menjadi penentu apakah Indonesia bisa menjadi tujuan ekspansi model 100×100 ke depannya.

Konteks Indonesia

Meskipun artikel utama tidak menyebut Indonesia secara spesifik, dana 100×100 mencakup Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Namun, data dari artikel terkait menunjukkan bahwa pendanaan startup regional sangat terkonsentrasi di Singapura (92%), dan pangsa Indonesia hanya 8% — anjlok signifikan. Oleh karena itu, dampak langsung bagi Indonesia sangat tergantung pada sejauh mana venture builder ini memilih untuk membangun perusahaan di Indonesia. Peluang ada di sektor energi terbarukan (surya, angin, biomassa), pangan berkelanjutan, dan efisiensi rantai pasok. Tanpa perbaikan iklim investasi, Indonesia berpotensi hanya menjadi pasar bagi produk startup yang dibangun di negara tetangga.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.